Biografi Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Islam dan Pejuang Pluralisme
Nama Lengkap: Ahmad Syafii Maarif
Lahir: Sumpur Kudus, Minangkabau, Sumatra Barat, 31 Mei 1935
Wafat: Yogyakarta, 27 Mei 2022
Gelar: Buya (sebutan kehormatan untuk ulama Minangkabau)
Masa Kecil dan Pendidikan
Ahmad Syafii Maarif lahir di Desa Sumpur Kudus, sebuah wilayah yang kaya akan tradisi Islam dan budaya Minangkabau. Sejak kecil, ia dididik dalam lingkungan religius oleh orang tuanya. Pendidikan dasarnya dimulai di Sekolah Rakyat (SR) di kampung halamannya, kemudian melanjutkan ke Madrasah Muhammadiyah di Solok.
Minatnya pada ilmu agama dan pemikiran Islam mendorongnya menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1956–1960). Setelah itu, ia merantau ke Yogyakarta untuk belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) dan lulus pada 1964.
Karir Akademik dan Pemikiran
Syafii Maarif dikenal sebagai intelektual Islam yang gigih memperjuangkan nilai-nilai pluralisme dan toleransi. Pada 1982, ia meraih gelar doktor dalam bidang Pemikiran Islam dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, dengan disertasi berjudul *"Pancasila sebagai Dasar Negara: Tinjauan dari Perspektif Islam"*. Karyanya ini menjadi fondasi pemikirannya tentang keselarasan antara Islam dan Pancasila.
Ia aktif mengajar di almamaternya, UIN Sunan Kalijaga, dan menjadi guru besar di bidang Pemikiran Islam. Pemikirannya banyak menekankan pentingnya dialog antar-agama, keadilan sosial, dan penolakan terhadap radikalisme.
Peran di Muhammadiyah
Buya Syafii Maarif tercatat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah semakin dikenal sebagai organisasi Islam moderat yang mendukung demokrasi dan kebhinekaan. Ia kerap menyerukan agar umat Islam Indonesia menjauhi politik identitas dan fokus pada pembangunan moral bangsa.
Sikapnya yang tegas menentang kekerasan atas nama agama membuatnya dihormati lintas kalangan. Ia juga aktif menjadi penasihat dalam berbagai forum nasional dan internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Karya dan Penghargaan
Buya Syafii Maarif menulis puluhan buku dan esai, antara lain:
- Islam dan Pancasila: Dialog Kritis atas Wacana Negara dan Agama (1985)
- Titik-titik Kisar di Perjalananku: Autobiografi (2009)
- Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (2015)
Atas kontribusinya, ia menerima sejumlah penghargaan bergengsi, seperti:
- Ramon Magsaysay Award (2008) untuk upayanya mempromosikan toleransi beragama di Asia.
- Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah Indonesia (2014).
Kehidupan Pribadi dan Warisan
Buya Syafii Maarif menikah dengan Nuriyah Wahid dan dikaruniai lima anak. Meski dikenal sebagai tokoh nasional, ia tetap hidup sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Ia wafat pada 27 Mei 2022 di Yogyakarta dalam usia 86 tahun. Pemikirannya tentang Islam yang ramah, nasionalisme, dan kemanusiaan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda. Yayasan Ahmad Syafii Maarif (YASMA) didirikan untuk melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan dan dialog antaragama.
Penutup
Buya Syafii Maarif adalah sosok yang mengajarkan bahwa Islam dan kebangsaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan sinergi untuk membangun peradaban yang adil dan manusiawi. Warisan intelektualnya tetap relevan sebagai penuntun di tengah tantangan globalisasi dan polarisasi sosial.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar