"KALIMAT SEMESTA DI TANAH RAJAWALI"
Di hampar hijau zamrud, hujan pun berbisik
dengung lebah menulis syair di kelopak cempaka,
daun-daun menadah tangan, menangkap rindu angin,
sementara sungai mengalunkan kidung zaman.
Puncak menjulang mencuatkan tinta langit,
kabut menari dalam selendang fajar,
di lerengnya, kopi-kopi bercerita pada embun
"Kami adalah jejak rembulan yang lelah turun."
Di tepi karang, ombak melantunkan gurindam,
pasir putih merekam jejak kaki senja,
lautan memeluk cakrawala dengan jingga
seperti puisi yang tak selesai dibaca mata.
Sawah berundak, meliuk bagai seloka emas,
bulir padi berbisik pada bulan:
"Kami adalah detak jantung bumi yang berdegup,
dalam pelukan petani dan matahari."
Kupu-kupu mengeja warna di antara kelopak,
angin menyusun metafora di dahan-dahan,
alam menuliskan diri dalam alfabet cahaya
Indonesia: bait-bait abadi yang tercipta sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar