Senin, 17 November 2025
Contoh Iklan Lowongan Kerja
Perbandingan Surat Lamaran
Sabtu, 15 November 2025
LEMBAR OBSERVASI Proyek: Eksplorasi Budaya – Tradisi Sekolah yang Mulai Hilang
PANDUAN OBSERVASI tradisional Sekolah yang Mulai Hilang
LEMBAR OBSERVASI Proyek: Masalah Sampah di Sekolah dan Proses Pengolahannya
PANDUAN OBSERVASI Proyek: Masalah Sampah di Sekolah dan Proses Pengolahannya
LEMBAR OBSERVASI PENGGUNAAN GADGET DI KALANGAN SISWA
“Fenomena Penggunaan Gadget di Kalangan Siswa SMA” Panduan Pelaksanaan Observasi
LEMBAR OBSERVASI PERUBAHAN CUACA DAN DAMPAKNYA BAGI AKTIVITAS SEKOLAH
“Perubahan Cuaca dan Dampaknya bagi Aktivitas Sekolah” Panduan Pelaksanaan Observasi
Sabtu, 08 November 2025
⚙️ LEMBAR OBSERVASI Proyek: Efisiensi Energi dan Air di Sekolahku
⚙️ Panduan Pelaksanaan Pengamatan Proyek: Efisiensi Energi dan Air di Sekolahku
๐ LEMBAR OBSERVASI Proyek: Kedisiplinan Siswa, Cermin Karakter Sekolahku
๐ Panduan Pelaksanaan Pengamatan Proyek: Kedisiplinan Siswa, Cermin Karakter Sekolahku
๐ฟ LEMBAR OBSERVASI Proyek: Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sekolahku Asri dan Nyaman
Panduan Pelaksanaan Pengamatan Proyek: Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sekolahku Asri dan Nyaman
LEMBAR OBSERVASI Proyek: Kebersihan dan Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah
Kebersihan dan Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekolah
Jumat, 16 Mei 2025
KALIMAT SEMESTA DI TANAH RAJAWALI
"KALIMAT SEMESTA DI TANAH RAJAWALI"
Di hampar hijau zamrud, hujan pun berbisik
dengung lebah menulis syair di kelopak cempaka,
daun-daun menadah tangan, menangkap rindu angin,
sementara sungai mengalunkan kidung zaman.
Puncak menjulang mencuatkan tinta langit,
kabut menari dalam selendang fajar,
di lerengnya, kopi-kopi bercerita pada embun
"Kami adalah jejak rembulan yang lelah turun."
Di tepi karang, ombak melantunkan gurindam,
pasir putih merekam jejak kaki senja,
lautan memeluk cakrawala dengan jingga
seperti puisi yang tak selesai dibaca mata.
Sawah berundak, meliuk bagai seloka emas,
bulir padi berbisik pada bulan:
"Kami adalah detak jantung bumi yang berdegup,
dalam pelukan petani dan matahari."
Kupu-kupu mengeja warna di antara kelopak,
angin menyusun metafora di dahan-dahan,
alam menuliskan diri dalam alfabet cahaya
Indonesia: bait-bait abadi yang tercipta sempurna.
Biografi Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Islam dan Pejuang Pluralisme
Biografi Buya Syafii Maarif: Sang Pemikir Islam dan Pejuang Pluralisme
Nama Lengkap: Ahmad Syafii Maarif
Lahir: Sumpur Kudus, Minangkabau, Sumatra Barat, 31 Mei 1935
Wafat: Yogyakarta, 27 Mei 2022
Gelar: Buya (sebutan kehormatan untuk ulama Minangkabau)
Masa Kecil dan Pendidikan
Ahmad Syafii Maarif lahir di Desa Sumpur Kudus, sebuah wilayah yang kaya akan tradisi Islam dan budaya Minangkabau. Sejak kecil, ia dididik dalam lingkungan religius oleh orang tuanya. Pendidikan dasarnya dimulai di Sekolah Rakyat (SR) di kampung halamannya, kemudian melanjutkan ke Madrasah Muhammadiyah di Solok.
Minatnya pada ilmu agama dan pemikiran Islam mendorongnya menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1956–1960). Setelah itu, ia merantau ke Yogyakarta untuk belajar di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga (sekarang UIN Sunan Kalijaga) dan lulus pada 1964.
Karir Akademik dan Pemikiran
Syafii Maarif dikenal sebagai intelektual Islam yang gigih memperjuangkan nilai-nilai pluralisme dan toleransi. Pada 1982, ia meraih gelar doktor dalam bidang Pemikiran Islam dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, dengan disertasi berjudul *"Pancasila sebagai Dasar Negara: Tinjauan dari Perspektif Islam"*. Karyanya ini menjadi fondasi pemikirannya tentang keselarasan antara Islam dan Pancasila.
Ia aktif mengajar di almamaternya, UIN Sunan Kalijaga, dan menjadi guru besar di bidang Pemikiran Islam. Pemikirannya banyak menekankan pentingnya dialog antar-agama, keadilan sosial, dan penolakan terhadap radikalisme.
Peran di Muhammadiyah
Buya Syafii Maarif tercatat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998–2005. Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah semakin dikenal sebagai organisasi Islam moderat yang mendukung demokrasi dan kebhinekaan. Ia kerap menyerukan agar umat Islam Indonesia menjauhi politik identitas dan fokus pada pembangunan moral bangsa.
Sikapnya yang tegas menentang kekerasan atas nama agama membuatnya dihormati lintas kalangan. Ia juga aktif menjadi penasihat dalam berbagai forum nasional dan internasional, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Karya dan Penghargaan
Buya Syafii Maarif menulis puluhan buku dan esai, antara lain:
- Islam dan Pancasila: Dialog Kritis atas Wacana Negara dan Agama (1985)
- Titik-titik Kisar di Perjalananku: Autobiografi (2009)
- Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan (2015)
Atas kontribusinya, ia menerima sejumlah penghargaan bergengsi, seperti:
- Ramon Magsaysay Award (2008) untuk upayanya mempromosikan toleransi beragama di Asia.
- Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah Indonesia (2014).
Kehidupan Pribadi dan Warisan
Buya Syafii Maarif menikah dengan Nuriyah Wahid dan dikaruniai lima anak. Meski dikenal sebagai tokoh nasional, ia tetap hidup sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Ia wafat pada 27 Mei 2022 di Yogyakarta dalam usia 86 tahun. Pemikirannya tentang Islam yang ramah, nasionalisme, dan kemanusiaan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda. Yayasan Ahmad Syafii Maarif (YASMA) didirikan untuk melanjutkan perjuangannya dalam bidang pendidikan dan dialog antaragama.
Penutup
Buya Syafii Maarif adalah sosok yang mengajarkan bahwa Islam dan kebangsaan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan sinergi untuk membangun peradaban yang adil dan manusiawi. Warisan intelektualnya tetap relevan sebagai penuntun di tengah tantangan globalisasi dan polarisasi sosial.
Teks Negosiasi : Membeli Sepatu Sekolah
Teks Negosiasi : Membeli Sepatu Sekolah
Supri : "Selamat pagi, Bu! Mau cari sepatu sekolah untuk anak?"
Wati : "Iya, Pak. Ada yang ukuran 38?"
Supri : "Ada, Bu. Ini model terbaru, bahannya kanvas tahan air dan solnya awet. Cocok untuk sekolah."
Wati : "Harganya berapa?"
Supri : "Rp250.000, Bu. Ini sudah diskon dari harga normal Rp300.000."
Wati : "Wah, kok masih mahal? Di toko sebelah model mirip cuma Rp200.000."
Supri : "Oh, beda kualitas, Bu. Sepatu ini garansi 6 bulan, jahitannya rapat, dan ada bantalan empuk di dalamnya. Kalau mau, saya kasih harga spesial Rp230.000."
Wati : "Saya budgetnya cuma Rp200.000. Bisa kurang lagi, Pak?"
Supri : "Wah, susah kalau segitu, Bu. Minimal Rp220.000. Saya kasih bonus kaos kaki gratis, bagaimana?"
Wati : "Kalau Rp210.000 tanpa kaos kaki, boleh?"
Supri : "Baiklah, Bu. Biar langganan. Tapi ini harga akhir ya, tidak bisa kurang lagi."
Wati : "Deal, Pak. Saya ambil yang warna hitam."
Supri : "Terima kasih, Bu. Silakan ditunggu, saya bungkus dulu."
Wati : "Sama-sama. Ini uangnya."
Supri : "Diterima. Semoga anaknya suka, Bu!"